Jam 23.00 kurang dikit waktu rumah aku, karena seharian tidur mulu jam segini aku belum bisa tidur nech, rumah rame secara besok adalah hari kemenangan umat Islam, kita mau rayain lebaran nech, cihuyyyyyyy (agak lebay bay). Seharian ini selain tidur aku juga buka tutup bb nech, surfing cerita fiksi jaman masa SMP dan SMA, cerita fiksi tentang percintaan yg paling aku suka, banyak dan berbagai macem ceritanya, buat aku juga pengen buat cerita fiksi nech, so aku putusin sebelum tidur tulis satu cerita fiksi.
Seperti ini critanya (sambil bertapa mikir cerita)
Dahulu kala, hidup seorang gadis cantik dan montok nan pintar di komplek perumahan tipe SS, dia adalah PITA. Dia seorang gadis yang sangat beruntung karena dia di kelilingi oleh orang - orang hebat nan luar biasa. Hidupnya sangat berwarna warni mulai dari keluarga, percintaan, sahabat dan segala rupa rupanya. PITA adalah major sebuar Firm dikampusnya nama firmnya adalah AUSI yang terdiri dari PITA as a major cewek bertubuh montok dengan tinggi 165 cm dan berat 62 kg, berambut panjang lurus hitam berkilau, a taurus, a selfish girl, dan dia paling pinter ngebisnisin semua yg didepan mata (paling parah mangga depan rumah ajah, dia bisnisin ke tengkulak mangga), selain PITA ada juga THATHA a Hindus, a glamour girl, a fancy girl and the most important she is a party lover, bagi dia ngak keren kalo hidup tanpa party tiap hari, she is a PENGANGGURAN FULL SUPPORT, ngak perlu mikir" tentang kerja duit udah ngalir bak air sungai yang mengalir tanpa henti. ARLY a cristian, a cute girl with long blonde hair, si kecil yg manis, hampir sama kaya ristha, hidup dia lebih indah dari temen _ temen yang lain, apa yg dia minta bagaikan sihiran, karena pasti dia dapet, party lover juga, hidup dia ngak jauh jauh dari bar and club. Ada juga LAY a youngest, a innocence girl but she have a big surprices, pecinta badak dan panda, ngak terlalu neko - neko, dan bakal hebring buat merawat wajah kalo jerawat udah mulai menampakkan dirinya. Dari ke empat cewek AUSI Pita yang paling hidup sederhana (bukan dia pengenin sech, tp keadaan yg memaksa dia) dia bukan seorang anak yang lahir dengan keadaan orang tua kaya raya, so dia harus berjuang kuat buat grow up dan hidup sederajat bersama mereka, tp dia bukan cewek yang suka memaksakan kehendeknya, dr pertama mereka membuat suatu firm, Pita memang yg dipilih jadi seorang major, karena diantara yang lain, Pita yang paling pinter bisnis dan mengelola keuangan, selain itu Pita juga seorang LEADER yang HUMBLE. Di tanggan Pita AUSI sukses terkenal di kampus dengan beberapa predikat, mulai dr kumpulan cewek kece, cewek hebring, cewek pecinta hidup independent and cewek semua golongan. Karena kita adalah firm yg bisa diajak berteman dengan kalangan atas hingga kere mlarat, semua kita rangkul bersama. Di akhir semester PITA yang lulus terlebih dahulu, karena memang dalam otak dia adalah lulus cepat agar tidak membebani hidup orang tua, dan bekerja untuk menjunjung martabat orang tua. Pita berhasil lulus di tahun 2009 dengan IPK 3.03 skala 2 tahun 8 bulan (Not bat lah) dan dia kini sudah bekerja di salah satu perusahaan swasta terkemuka di jogja. Seperti mimpinya hidupnya mulai menampakkan tanda tanda kenaikan derajat, karena gaji yang di dapat saat itu mampu untuk memenuhi kebutuhan dia dan sedikit membantu keluarga. Pita mempunyai jabatan yang cukup bagus, dia seorang Supervisor di kantor tersebut yang membawahi sekitar 30 karyawan. Setelah kurang lebih 1 tahun 6 bulan Pita bertemu dengan Hedi, cowok calm and low profile plus lumayan genius lha. Hedi seorang consultant bagi perusahaan dimana Pita bekerja, hubungan mereka cukup baik sebagai seorang teman, tapi setelah sekitar 5 bulan intens bbman mereka saling mempunyai rasa kagum satu sama lain. Menurut Pita, Hedi seorang cowok dewasa, family lover, tapi sedikit meye meye alias kurang power. Tapi ini mungkin yang dinamakan dengan jangan membenci seseorang terlalu dalam contoh Pita paling benci seorang laki laki yang kurang berpower, meye meye dan gapuk (dalam bahasa insonesia rapuh) tapi semenjak Pita kenal dengan Hedi, she merasa kemakan dengan omongan sendiri, karena Pita seperti terhipnotis dengan meye meye sikat Hedi. Dan setelah 5 bulan menjalin hubungan sebagai teman, Hedi memberanikan diri untuk mengutarasakan isi hatinya, He mengatakan kepada Pita kalou dia merasa nyaman, suka, sayang dan cinta kepada Pita, dan ini adalah kabar yg cukup mencengangkan bagi Pita. Tak bisa berkata, dalam hati Pita memang mengagumi sosok Hedi, tp she tidak pernah menyangka kalau Hedi bakal menembak she. Saat itu yang ada dalam pikiran Pita hanya satu "DIA INGIN MENGATAKAN IYA AKU MENERIMA MU" tapi mulutnya seperti di bekap dengan kain panjang hingga she tak bisa mengungkapkan hal tersebut. Maka she putuskan untuk tidak menjawabnya, Pita memilih menghindar karena menurut Pita, Hedi terlalu baik buat she. Dan keluarga mereka sangat Jet-Lag, Pita lahir dari keluarga biasa - biasa saja, dan cukup. Sedang Hedi, besar dr keluarga berada dan ningrat. Pita tidak ingin bila nanti Hedi jadi pacar Pita, she merasa awkward dengan Hedi. Tapi cinta tetaplah cinta, Pita ngak bisa menyembunyikan rasa itu karena memang Pita benar" mencintai Hedi, maka she putuskan untuk memulai masuk dalam kehidupan Hedi. Slama kurang lebih 1 minggu hubungan mereka berjalan, Pita merasa ketenangan bila di dekat Hedi, sepertinya she mulai menikamati masa masa bersama Hedi. Tapi karena di dasari dari rasa sungkan, kadang terlintas dalam benak Pita untuk mengakhiri hubungan ini, Pita tidak ingin bila nanti mereka menuju ke Jenjang pernikahan, keluarga Hedi tidak bisa menerima keluarga Pita yang notabennya orang yang biasa biasa saja yang tinggak di komplek perumahan SS dan ayah Pita yg bekerja serabutan dan ibu Pita yg seorang ibu rumah tangga biasa, dan mereka berduka tidak tamat dr SMA karena memutuskan untuk menikah Dini. Dan kini rasa resah itu tak habis habisnya menghantui Pita, She harus terbangun setiap jam 2 pagi karena hal ini. Di satu sisi Pita sangat mencintai Hedi di satu sisi Pita sangat mencintai keluarganya dan tidak ingin keluarga hatinya tersakiti karena perkataan tidak enak atau singkat kata Pita tidak ingin keluarganya di Hina oleh atau di rendahkan oleh keluarga Hedi. Dan kini Pita dilema antara melanjutkan hubungannya dengan Hedi atau memilih keluarga yang she Cintai.
To be continue .....
Selasa, 30 Agustus 2011
Senin, 29 Agustus 2011
Green Street Elite a.k.a GSE
Green Street is a 2005 British/American independent drama film about football hooliganism in England. It was directed by Lexi Alexander and stars Elijah Wood and Charlie Hunnam. In the United States and Australia, the film is called Green Street Hooligans, while in the United Kingdom it has the title Green Street after initially being called Hooligans. In other countries, it is called Football Hooligans or just Hooligans. In the film, an American college student (Matt Buckner — played by Elijah Wood) falls in with a violent West Ham football firm (the Green Street Elite) run by his brother-in-law and is morally transformed by their commitment to each other. The story and screenplay were developed by former hooligan turned author Dougie Brimson.
Throughout the film, the Green Street Elite fight other "firms" such as Tottenham Hotspur's Yid Army, Birmingham City's Zulus, Manchester United's Red Army and Millwall's Bushwackers.
A sequel called Green Street 2: Stand Your Ground, was released straight-to-video in 2009.
Plot
Matt Buckner (Elijah Wood) is thrown off his journalism course at Harvard University after cocaine is discovered in his room. However, the cocaine belongs to Jeremy Van Holden (Terence Jay), his roommate. Buckner is afraid to speak up because the Van Holdens are a powerful family, and Jeremy pays him $10,000 for taking the fall. Matt moves to the United Kingdom to live with his sister Shannon (Claire Forlani), her husband Steve Dunham (Marc Warren) and their young son, Ben (James Allison). There, Matt meets Steve's brother, Pete (Charlie Hunnam), a loud and thuggish Cockney who runs a local football hooligan firm - a group of football supporters that arranges fights after matches - and teaches at a local school. Steve asks Pete to take Matt to a football match between West Ham United and Birmingham City, though Pete reluctant to take a "Yank" to a football match, because of the xenophobic nature of his friends. He is persuaded only because Steve will give Matt money. After defeating Matt in a fight, Pete decides to take Matt to the football match, thinking the yank might learn a thing or two.
Matt meets Pete's friends and his firm in the Abbey, their local pub. The hooligans all befriend Matt, with the exception of Pete's right-hand man, Bovver (Leo Gregory). After a few pints of lager, they head to Upton Park for the match. After the match, Pete, Bovver, and the other firm members agree to go and fight some Birmingham fans, but Matt decides that it is not for him and tells Pete he is going to take the train home. On his way back to the underground, Matt is jumped by three Birmingham fans, who nearly give him a 'Chelsea Grin', but he is rescued by some GSE members, who are on their way to a larger fight. Though grossly outnumbered, the GSE manage to hold their ground until reinforcements chase off the Birmingham firm. Matt does well in his first true fight and is inducted into the GSE. After a row with Steve, Matt moves in with Pete, and the two exchange stories. The GSE firm then head to an away game against Manchester United. Matt was not meant to come but ends up sneaking onto the train. Whilst on the train they are pre-warned that 40 Manchester United firm members are waiting for them at the station. Bovver hits the emergency stop button which allows the GSE to get off at an earlier stop (Macclesfield). Having failed to find a taxi, they persuade a van driver to take them into Manchester. Matt sits in the front of the van with the driver; the rest of the GSE are in the rear. As the van approaches the Man Utd. fans, Matt tells them that they are moving equipment for a Hugh Grant film, so the fans let them through. When past them, he stops the van, opens up the back, and the GSE charge out to attack the Man U firm members. They win the fight and run away singing "There's your famous GSE!" It is soon revealed to Matt that the GSE's sworn enemy is Millwall's firm, led by Tommy Hatcher (Geoff Bell), with whom Bovver makes negotiations after getting jealous of Matt. After one of the members of the firm see Matt meeting his father, a renowned journalist for The Times, for lunch, they assume Matt is a "journo" as well. Bovver informs Pete of this, and, when Steve finds out, he goes to the Abbey to warn Matt. Matt finds out that Steve used to be "The Major" of the GSE but quit following a match against Millwall, to which Tommy Hatcher brought along his 12-year-old son. The boy was killed in the ensuing fight by members of the GSE, causing Tommy Hatcher to "lose it," blaming Steve and the GSE for his son's death. After witnessing this unfortunate tragedy, Steve left football hooliganism for good.
At that moment, Bovver arrives, and there is a big argument in the Abbey, in which Bovver comes out humiliated. Infuriated, he goes to Millwall's local and asks Tommy Hatcher to ambush GSE at the Abbey. Initially reluctant, Tommy Hatcher agrees upon learning that Steve Dunham is there. The Millwall firm crash the Abbey, and petrol bomb the bar. Upon arriving, Tommy Hatcher confronts Steve. Steve's attempt to convince Tommy Hatcher that he is no longer involved in the GSE only further reminds Hatcher of his son, and he stabs Steve in the neck with a broken bottle, telling him "If you die tonight, you and me are even." Bovver, who had been knocked out by Tommy Hatcher, comes round just in time to help Steve. At the hospital, Pete blasts Bovver for his betrayal. In the aftermath, the two firms meet near the Millennium Dome for an all-out brawl. Matt and Bovver show up to fight for the GSE, but during the fight, Matt's sister, Shannon, turns up with their son, and are attacked by a Millwall hooligan. Matt and Bovver come to their rescue. Pete notices that Tommy Hatcher is approaching the car, and distracts Tommy by taunting him to "finish him off." When Tommy Hatcher declares to have finished with him, Pete then retorts that Tommy Hatcher was to blame for his son's death, having failed to protect him ("He was your SON!"). Tommy Hatcher, driven to insanity, attacks and kills Pete, all the while shouting out a variation of the words to the chant 'Only a poor little Hammer,' using it as an analogy for Pete's condition. The fight completely halts at this point, and Hatcher is eventually pulled off Pete by some of his friends as he breaks down in tears. Everyone on both sides gathers around Pete's dead body in shock, with Bovver sobbing at his side.
Matt returns to the United States and confronts Jeremy Van Holden in a restaurant toilet, where Jeremy is snorting cocaine. Jeremy arrogantly tells Matt to leave during a brief discussion in which he admits to his identity as the cocaine stash's true owner. Matt then pulls out a tape recorder and plays back what Jeremy just said, saying that it is his "ticket back to Harvard." Jeremy lunges at him to try and get the tape, but Matt casually reverses the attack and raises his fist as if to punch Jeremy. He does not do so, instead walking out with a smile as Jeremy collapses to the floor, defeated. The film ends with Matt walking down the street outside the restaurant singing "I'm Forever Blowing Bubbles."
Cast
Elijah Wood as Matt Buckner
Charlie Hunnam as Pete Dunham
Leo Gregory as Bovver
Claire Forlani as Shannon Buckner Dunham
Marc Warren as Steve Dunham
Ross McCall as Dave
Rafe Spall as Swill
Kieran Bew as Ike
Joshua Kennedy as Lad
Richard Harden as Bar Tender
Sicamore Sampson as Regi
Timothé Bosch as Jimmy
Papple Jammers as Firefighter
Geoff Bell as Tommy Hatcher
James Allison as Ben Dunham
Terence Jay as Jeremy Van Holden
Scott Christie as Millwall Lad/Ricky
Joel Beckett as Terry
Tom Vloothuis as Firm Member
Daniel Smith as Firm Member
Brandon Devine as Firm Member
Mason Jones as Bartender
Carter Clements as Jeremey Chappele
Ryan Monheim as Running Guy
Steve Banks as Himself
Chevon Eastwood as herself
John Delis as himsel
(Support by Wikipedia)
Throughout the film, the Green Street Elite fight other "firms" such as Tottenham Hotspur's Yid Army, Birmingham City's Zulus, Manchester United's Red Army and Millwall's Bushwackers.
A sequel called Green Street 2: Stand Your Ground, was released straight-to-video in 2009.
Plot
Matt Buckner (Elijah Wood) is thrown off his journalism course at Harvard University after cocaine is discovered in his room. However, the cocaine belongs to Jeremy Van Holden (Terence Jay), his roommate. Buckner is afraid to speak up because the Van Holdens are a powerful family, and Jeremy pays him $10,000 for taking the fall. Matt moves to the United Kingdom to live with his sister Shannon (Claire Forlani), her husband Steve Dunham (Marc Warren) and their young son, Ben (James Allison). There, Matt meets Steve's brother, Pete (Charlie Hunnam), a loud and thuggish Cockney who runs a local football hooligan firm - a group of football supporters that arranges fights after matches - and teaches at a local school. Steve asks Pete to take Matt to a football match between West Ham United and Birmingham City, though Pete reluctant to take a "Yank" to a football match, because of the xenophobic nature of his friends. He is persuaded only because Steve will give Matt money. After defeating Matt in a fight, Pete decides to take Matt to the football match, thinking the yank might learn a thing or two.
Matt meets Pete's friends and his firm in the Abbey, their local pub. The hooligans all befriend Matt, with the exception of Pete's right-hand man, Bovver (Leo Gregory). After a few pints of lager, they head to Upton Park for the match. After the match, Pete, Bovver, and the other firm members agree to go and fight some Birmingham fans, but Matt decides that it is not for him and tells Pete he is going to take the train home. On his way back to the underground, Matt is jumped by three Birmingham fans, who nearly give him a 'Chelsea Grin', but he is rescued by some GSE members, who are on their way to a larger fight. Though grossly outnumbered, the GSE manage to hold their ground until reinforcements chase off the Birmingham firm. Matt does well in his first true fight and is inducted into the GSE. After a row with Steve, Matt moves in with Pete, and the two exchange stories. The GSE firm then head to an away game against Manchester United. Matt was not meant to come but ends up sneaking onto the train. Whilst on the train they are pre-warned that 40 Manchester United firm members are waiting for them at the station. Bovver hits the emergency stop button which allows the GSE to get off at an earlier stop (Macclesfield). Having failed to find a taxi, they persuade a van driver to take them into Manchester. Matt sits in the front of the van with the driver; the rest of the GSE are in the rear. As the van approaches the Man Utd. fans, Matt tells them that they are moving equipment for a Hugh Grant film, so the fans let them through. When past them, he stops the van, opens up the back, and the GSE charge out to attack the Man U firm members. They win the fight and run away singing "There's your famous GSE!" It is soon revealed to Matt that the GSE's sworn enemy is Millwall's firm, led by Tommy Hatcher (Geoff Bell), with whom Bovver makes negotiations after getting jealous of Matt. After one of the members of the firm see Matt meeting his father, a renowned journalist for The Times, for lunch, they assume Matt is a "journo" as well. Bovver informs Pete of this, and, when Steve finds out, he goes to the Abbey to warn Matt. Matt finds out that Steve used to be "The Major" of the GSE but quit following a match against Millwall, to which Tommy Hatcher brought along his 12-year-old son. The boy was killed in the ensuing fight by members of the GSE, causing Tommy Hatcher to "lose it," blaming Steve and the GSE for his son's death. After witnessing this unfortunate tragedy, Steve left football hooliganism for good.
At that moment, Bovver arrives, and there is a big argument in the Abbey, in which Bovver comes out humiliated. Infuriated, he goes to Millwall's local and asks Tommy Hatcher to ambush GSE at the Abbey. Initially reluctant, Tommy Hatcher agrees upon learning that Steve Dunham is there. The Millwall firm crash the Abbey, and petrol bomb the bar. Upon arriving, Tommy Hatcher confronts Steve. Steve's attempt to convince Tommy Hatcher that he is no longer involved in the GSE only further reminds Hatcher of his son, and he stabs Steve in the neck with a broken bottle, telling him "If you die tonight, you and me are even." Bovver, who had been knocked out by Tommy Hatcher, comes round just in time to help Steve. At the hospital, Pete blasts Bovver for his betrayal. In the aftermath, the two firms meet near the Millennium Dome for an all-out brawl. Matt and Bovver show up to fight for the GSE, but during the fight, Matt's sister, Shannon, turns up with their son, and are attacked by a Millwall hooligan. Matt and Bovver come to their rescue. Pete notices that Tommy Hatcher is approaching the car, and distracts Tommy by taunting him to "finish him off." When Tommy Hatcher declares to have finished with him, Pete then retorts that Tommy Hatcher was to blame for his son's death, having failed to protect him ("He was your SON!"). Tommy Hatcher, driven to insanity, attacks and kills Pete, all the while shouting out a variation of the words to the chant 'Only a poor little Hammer,' using it as an analogy for Pete's condition. The fight completely halts at this point, and Hatcher is eventually pulled off Pete by some of his friends as he breaks down in tears. Everyone on both sides gathers around Pete's dead body in shock, with Bovver sobbing at his side.
Matt returns to the United States and confronts Jeremy Van Holden in a restaurant toilet, where Jeremy is snorting cocaine. Jeremy arrogantly tells Matt to leave during a brief discussion in which he admits to his identity as the cocaine stash's true owner. Matt then pulls out a tape recorder and plays back what Jeremy just said, saying that it is his "ticket back to Harvard." Jeremy lunges at him to try and get the tape, but Matt casually reverses the attack and raises his fist as if to punch Jeremy. He does not do so, instead walking out with a smile as Jeremy collapses to the floor, defeated. The film ends with Matt walking down the street outside the restaurant singing "I'm Forever Blowing Bubbles."
Cast
Elijah Wood as Matt Buckner
Charlie Hunnam as Pete Dunham
Leo Gregory as Bovver
Claire Forlani as Shannon Buckner Dunham
Marc Warren as Steve Dunham
Ross McCall as Dave
Rafe Spall as Swill
Kieran Bew as Ike
Joshua Kennedy as Lad
Richard Harden as Bar Tender
Sicamore Sampson as Regi
Timothé Bosch as Jimmy
Papple Jammers as Firefighter
Geoff Bell as Tommy Hatcher
James Allison as Ben Dunham
Terence Jay as Jeremy Van Holden
Scott Christie as Millwall Lad/Ricky
Joel Beckett as Terry
Tom Vloothuis as Firm Member
Daniel Smith as Firm Member
Brandon Devine as Firm Member
Mason Jones as Bartender
Carter Clements as Jeremey Chappele
Ryan Monheim as Running Guy
Steve Banks as Himself
Chevon Eastwood as herself
John Delis as himsel
(Support by Wikipedia)
Selasa, 23 Agustus 2011
Berjuang untuk mimpiku
Aku seorang pemimpi, dan kini aku harus terseok seok untuk mengejar mimpiku, 2 dijam 20.00 dan 20.15 cukup tersentak, tapi aku harus mengejarnya. Ambisius dan harus, aku tidak ingin tidak tepat waktu. Aku ingin segera menyelesaikannya. Aku ingin segera mengepakkan sayap kebesaranku. Aku harus berjuang untuk mimpiku walau aku harus berdarah, lelah, tapi aku HARUS.
Aku ingin membuat mereka milhat ku sebagai seorang yang BISA dan MAMPU, sekali lagi aku haus akan mimpi. Kurang 2 lagi, bila ini sudah selesai berarti perangku tinggal 1 lagi, aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi, aku ingin hari itu cepat berlalu agar satu gelar ini cepat aku gapai. Tak sabar aku ingin menggapai masadepanku. Bantu aku Allah, bantu aku agar aku dapat menggapai mimpiku. Tak sabar aku menunggu 10 September 2011
Kamis, 21 Juli 2011
tiba tiba menjadi sangat religious
Assalamualaikum Wr. Wb
Selamat siang semua teman - teman
entah mengapa sudah beberapa hari ini saya sangat religious, entah karena sebentar lagi akan masuk ke bulan ramadhan atau saya sedang diingatkan oleh Allah SWT, bahwa tidak ada yang kekal dan sempurna didunia ini. Seorang yang sangat religious (dibaca seorang pemuka agama) aja bisa melakukan banyak kesalahan, bisa munyakiti hati orang juga, karena mereka hanya manusia biasa yang jauh dari kata sempurna, dan mahluk Allah SWT yang sempurna itu hanya nabi Muhammad SAW, maka dari itu Allah menjadikan Nabi Muhammad sebagai panutan bagi umat-Nya. Manusia itu tempatnya dosa, seperti saya, saya adalah seorang manusia, dan saya selalu melakukan kesalahan dalam menjalani hidup saya. Saya sering mengumpat, sering marah tanpa alasan, saya sering sombong, lisan saya sering menyakiti hati orang lain, dan tingkah laku saya sering membuat orang muak dengan saya, solat saya kurang kusyuk, ibadah saya kurang ikhlas, sedekah saya suka macet, saya sering menyakiti hati mama papa saya, saya sering tidak pernah bersyukur dan masih banyak lagi kegiatan - kegiatan saya setiap hari yang tak pernah terhindar dari dosa. Yah inilah saya manusia yang melakukan banyak dosa, dan dikala sedang mengerjakan tugas saya sedang mendengarkan lalu Nasid yang saya dapet dari teman sekantor saya salah satunya adalah lagu "SEBUAH PENGAKUAN" by MARSANDA seperti ini liriknya
Selamat siang semua teman - teman
entah mengapa sudah beberapa hari ini saya sangat religious, entah karena sebentar lagi akan masuk ke bulan ramadhan atau saya sedang diingatkan oleh Allah SWT, bahwa tidak ada yang kekal dan sempurna didunia ini. Seorang yang sangat religious (dibaca seorang pemuka agama) aja bisa melakukan banyak kesalahan, bisa munyakiti hati orang juga, karena mereka hanya manusia biasa yang jauh dari kata sempurna, dan mahluk Allah SWT yang sempurna itu hanya nabi Muhammad SAW, maka dari itu Allah menjadikan Nabi Muhammad sebagai panutan bagi umat-Nya. Manusia itu tempatnya dosa, seperti saya, saya adalah seorang manusia, dan saya selalu melakukan kesalahan dalam menjalani hidup saya. Saya sering mengumpat, sering marah tanpa alasan, saya sering sombong, lisan saya sering menyakiti hati orang lain, dan tingkah laku saya sering membuat orang muak dengan saya, solat saya kurang kusyuk, ibadah saya kurang ikhlas, sedekah saya suka macet, saya sering menyakiti hati mama papa saya, saya sering tidak pernah bersyukur dan masih banyak lagi kegiatan - kegiatan saya setiap hari yang tak pernah terhindar dari dosa. Yah inilah saya manusia yang melakukan banyak dosa, dan dikala sedang mengerjakan tugas saya sedang mendengarkan lalu Nasid yang saya dapet dari teman sekantor saya salah satunya adalah lagu "SEBUAH PENGAKUAN" by MARSANDA seperti ini liriknya
Seketika disaat saya sedang mendengarkan lagu itu hati saya sangat terenyuh, bukan karena suara marshanda yang mendayu dayu sendu, tapi karena saya teringat akan semua dosa - dosa saya. Saya teringat saya adalah manusia yang sangat tidak sempurna, manusia yang sangat banyak dosa, Ya Allah maafkan hamba-Mu iniHooooo Tuhan, aku bukanlah ahli surga. Juga tak mampu menahan siksa neraka. Kabulkan tobat ampuni dosa - dosakuHanyalah engkau pengampunan dosa hamba-Mu. Dosa - dosaku tak terhitung bagai debu, Ya...Illahi, terimalah amal tobatku. Sisa umurku berkurang setiap hari. Dosa - dosaku makin bertambah, Ya...Illahi. Hamba yang berdosa datang bersimpuh menyembah-Mu. Mengaku menyeru memohon ampunan-Mu. Mengaku menyeru memohon ampunan-Mu
Senin, 13 Juni 2011
pantai wonosari
hello,
sudah lama saya tidak menghiasi blog saya ini. padahal banyak kejadian dalam hidup saya, dari percintaan, persahabatan, study, pekerjaan and other.
aku sangat kangen sama kamu blog seribukali cium buat kamu blog hehehehe.
oiya, beberapa bulan yang lalu aku sempet jalan - jalan nech ke pantai wonosari jogja, ancur dech pantainya hebat, keren, fabulous, splendid, gorgeous pokoknya super duper friend.
dari semarang aku jalan pukul 11 malem sampe di wonosari langsung menuju ke pantai terdekat dari semarang yaitu pantai Baron, gayanya pengen liat sunrise di baron
keren dech, masih ada ikan badut (nemo) dan ikan - ikan hias lainnya, trus airnya juga bagaikan air tawar seger banget
menyenangakan dech di kukup, pasirnya putih bersih enak banget buat tiduran,
perjalan ku gak cuman sampai disitu aja, aku jalan - jalan lagi ke pantai krakal dan sundak yang pasti masih di sederet pantai kukup pantainya juga bagus dan berpasir putih dan tidak berbatu karang seperti di kukup
last destination ke pantai,, eeeccchhhmmm apa ya namanya yang pasti pantainya itu bagus, berpasir putih dan sering dipakai buat panjat tebing nasional
itu tadi beberapa pantai yang ada di sekitar wonosari, oiya ada juga tempat makan yang langsung dengan view pantai yang keren kaya gini (walau gak begitu jelas sech)
selamat membaca dan melihat, lalu silahkan mencoba.... :) :) :)
sudah lama saya tidak menghiasi blog saya ini. padahal banyak kejadian dalam hidup saya, dari percintaan, persahabatan, study, pekerjaan and other.
aku sangat kangen sama kamu blog seribukali cium buat kamu blog hehehehe.
oiya, beberapa bulan yang lalu aku sempet jalan - jalan nech ke pantai wonosari jogja, ancur dech pantainya hebat, keren, fabulous, splendid, gorgeous pokoknya super duper friend.
dari semarang aku jalan pukul 11 malem sampe di wonosari langsung menuju ke pantai terdekat dari semarang yaitu pantai Baron, gayanya pengen liat sunrise di baron
(@ baron beach)
ech tapi malah kesiangan karena kecapekan so, jadinya liat matahari terik aja di baron lebih dari tepok jidat dech, tapi NOT BAD koq pantainya, bis itu lansung jalan lagi ke kukup (kalo ngak salah yang pasti tuch pantai sebelahnya pantai baron, pantainya lebih bagus., bawahnya masih banyak rumput lautnya keren dech seperti gambar dibawah ini :keren dech, masih ada ikan badut (nemo) dan ikan - ikan hias lainnya, trus airnya juga bagaikan air tawar seger banget
menyenangakan dech di kukup, pasirnya putih bersih enak banget buat tiduran,
perjalan ku gak cuman sampai disitu aja, aku jalan - jalan lagi ke pantai krakal dan sundak yang pasti masih di sederet pantai kukup pantainya juga bagus dan berpasir putih dan tidak berbatu karang seperti di kukup
last destination ke pantai,, eeeccchhhmmm apa ya namanya yang pasti pantainya itu bagus, berpasir putih dan sering dipakai buat panjat tebing nasional
itu tadi beberapa pantai yang ada di sekitar wonosari, oiya ada juga tempat makan yang langsung dengan view pantai yang keren kaya gini (walau gak begitu jelas sech)
selamat membaca dan melihat, lalu silahkan mencoba.... :) :) :)
Rabu, 16 Maret 2011
salah
@kotak sabun
Tega by Glen Fredly
Ditengah rasa rindu ku yang menggebu, kau bersama dia
Disaat – saat ku menunggu dirimu, kau bersama dia
Bila kau cinta aku, mengapa kau tipu diriku tuk bersama dia
Kau bunuh hati ku saat ku bernafas untuk mu
Kau kebanggaan aku, yang tega menipuku
Bila kau cinta aku, mengapa kau tipu diriku
Tuk bersama dia,,,,
Ini sebagai back sound malam senduku, setelah hampir enam bulan bareng sama seseorang yang aku gak pernah sadar kalo ternyata dia telah mencuil hati ku. Dia adalah anak kecil pertama yang buat aku merasa kangen, Destry namanya. Anak kelahiran tahun 1990 ini bisa sangat menyentuh hatiku. Sekitar pertengahan bulan Oktober 2010 aku bertemu secara intensif dengan dia, walo sebenarnya aku udah sering bertemu sama nech anak, secara dia adalah tetangga nenek aku boo. Dulu sech aku gak pernah berfikir kalo dia bakal jadi seseorang special dalam hati ku. Aku udah tinggal selama 22 tahun bersama nenek di solo, banyak cerita tentang kota kecil budaya nan unik itu. Salah satunya yaitu Destry, nech anak unik dan ngegemesin. Pertama – tama deket sech kayak gak ada yang special, biasa aja, tapi setelah beberapa kali smsan dan telepon – teleponan baru berasa passion nya. Kentel banget kuah ngocol yang dia tuang di mangkuk gede ku. Umur boleh beda 2 tahun lebih muda dari aku, tapi sensasi yang dibuatnya, beught bikin aku jadi klepek – klepek. Nech anak selalu bisa bikin aku tenang dan ceria, serasa mengulang masa – masa SMA. Dia bisa dengan cepat mengisi kekosongan hati ku yang udah lama ditinggal sama pacarku merantau di negri tetangga. Sebenarnya kita berdua deket dengan rasa 100% sadar bahwa aku gak bakal milikin dia seutuhnya.
Tapi dengan berjalannya waktu, ternyata pepatah nenek aku
“weteng tresno jalaran soko kulino”
nunclep tajem dihatiku, pertama yang aku katakan sech “modar rak kie”, hati ku secara tidak sengaja udah ku buka buat dia hampir 50%. Pertama saat aku merasakan hal tersebut, kelimpungan susah payah aku cari jalan keluar buat mengeluarkan rasa cinta yang weskadung cunclep di hati ini. Dari mulai gak bales sms dia, gak gubris perhatian dia, sampe harus kursus sama temen aku buat ngeluarin rasa cinta itu. Tapi inilah cinta semakin lama aku berusaha untuk keluar, semakin kuat cinta itu menusuk hatiku, semakin lama semakin perih hingga aku membohongi diriku sendiri bahwa sebenarnya aku sudah terjun payung ke lubang hatinya. Pengen banget nyalahin si cupit karena udah pasang panah cinta buat dia. Beberapa kali aku ungakapin rasa untuk menunjukkan bahwa aku cinta dia, tapi beberapa kali juga aku ngeles kata – kata itu. Karena aku masih takut buat ungkapin rasa froya cinta juwita ini sama destry, bias dibilang munafik sech tapi bodoh aja lah yang penting aku gak malu karena cinta ama anak yang baru genep berusia 20 tahun pada 30 Desember 2010 kemaren. Bisa mati kutu aku kalo ternyata semua orang tau kalo aku sebenarnya udah menyisihkan hati buat Destry, maw dibawa kenama nech wajah.
Tapi semua rasa itu berubah, saat aku nge-gap dia lagi sms-an sama cewek. Sontak aja hati ini ngesek sek sek kaya keplindes truck tronton. Rasanya sakit banget, pengen marah dan pengen ngebanting hp yang ada di tangan ku saat itu. Gak pernah menyangka kalo ternyata selama beberapa hari ini dia sedang deket ama cewek. Hati ku kelu dan perih. Hampir gak bias berkutip dan beranjak dari tempat aku duduk. Apalagi ekspresi wajah tak berdosa dan ucapannya
“udah dech gak usah liat – liat isi smsnya, ini khan urusanku buat sms sapa aja,”
buat aku merasa sangat bodoh karena sudah memasukkan dia kedalam dunia ku ini. Gak pernah menyangka bahwa dia akan mengatakan hal seperti itu. Rasa jealous itu sungguh kuat, dan membutakan mata hati ku. Amarah dari keegoisan ku langsung muncul secara tiba – tiba, airmata pun tak kuasa kutahan untuk mengungkapkan rasa menyesak ini. Dan ini udah hari ketiga setelah aku tau bahwa dia sedang membagi hatinya dengan oranglain yang dia panggil sebagai seorang mantan. Tak bisa juga aku merelakan dia. Sudah melekat terlalu dalam panahan cintanya. Walau aku tau bahwa sebenarnya cintaku ku ini adalah kesalahan.
Kamis, 20 Januari 2011
sudah bukan lilin tapi OBOR
tgl 20 januari 2011
mungkin itu jadi hari terbodohku , hari tergila ku, hari terdasyatku dalam membuat sensasi yang nantinya bakal di buatin mega sinetron dengan judul " SKANDAL "
yeah semua orang tiba -tiba aja dateng pas aku lagi duduk menunggu litte di RS,,,, mana aku lagi berdua lagi karena family dia lagi pada njepat dengan kesibukan mereka semua,,, malunya gak ketulungan muka nech rasanya pengen di copot trus dipasang lagi dengan udah di recover,,,,
yang paling ngeri pas papa ternyata juga ikut dateng jenguk,,, untung aku punya bokap yang super GAUL so bisa cepet - cepat ngeles sana sini dech,,, untung juga si BOKAP keturunan dari artis ngeTOP so bermainlah kita sinetron tanpa skrip,,,, bikin mampos aja lah jam antara 18.00 - 21.00 WIB,,,,,
gak sampe kesitu aja,,,karena kejadian itu,,,,yang aku nyalain sekarang bukan aja lilin di 100 lampu terang tapi aku sudah menyalakan OBOR SEAGAMES di 1000 lampu neon yang ukuran dan watt nya paling GEDE,,,
bakal jadi artis dadakan dech,,, apalagi pagi ini
tgl 21 Januari 2011
baru juga keluar rumah buat beli shampo ,,, orang - orang pada ketawa - ketiwi aja ngeliatin aku,,, jadi gak enak body nech,,, apa aja yang bakal mereka omongin ya,,,??? gak sabar dengerin kabar gajah terdengar (sangking GEDEnya dan hebohnya tuch kabar sech)
mama pagi - pagi juga udah sewot karena apa yang aku lakuin kemaren ,,,,
yang ada dipikiran mama pagi ini cuma satu " apa yang bakal mama kata sama orang - orang def?? "
aku sech cuma bisa diem,,, bis gemana lagi aku juga gak bakal sangka kalo ternyata orang - orang bakal dateng kesana secepat itu,,,
sekarang tinggal putar otak buat cari cara gemana cara matiin tuch OBOR,,,, bisnya dimatiin pake air hujan udah gak bisa sech,,,,
yeah semrawut,,,,LEBAY gila cing,,,,,
Langganan:
Postingan (Atom)













